Sekarang2
di hari minggu, tepatnya tanggal 03-03-2013 @pukul: 10:56 pagi menjelang siang.
Aku sangat2 bersyukur dengan kehidupanku sekarang. Yang penuh dengan kebosanan.
Hari2 ku memang membosankan, tapi saat aku ingin mencari yang aku ingin kan di
dunai maya. Aku menemukan halaman “MUKJIZAT & DO’A” disitu aku mencoba
membaca, padahal biasanya aku malas baca seperti itu. Tapi saat aku coba baca
yang mengarahkan ku untuk menjalankan sesuatu yang harus aku kerjakan, yaitu
sholatwajib. Dimana sholat itu Yang
seharusnya aku kerjakan, tapi aku mala menyianyiakanya. Sampai aku menyadari
bahwa semua yang aku tinggalkan akan mendampak buruk untuk kehidupanku di akan
datang yaitu akherat. Semua orang yang dengan sengaja meninggalkan sholat, maka
orang tersebut akan mendapatkan azab di akherat nanti. Astagfiruallah.. aku
menangis, begitu banyak dosa yang aku lakukan. Di mulai aku berdosa sama kedua
orang tua ku sendiri, aku berdosa sama sahabat dan teman2 ku. Bahkan banyak
dosa yang aku lakuin, sampai sholat pun aku tinggal kan. Hanya ada sesuatu yang
menyenangkan aku baru mau sholat. Tapi kalau aku ada masalah sama siapa pun aku
tidak mau sholat. Sampai pacarku menyuruhku sholat aku mala memarahinya,
padahal kata dia sholat itu baik untukku sendiri. Tapi aku tidak mendengar
kannya mala marah dan cuekin dia. Sampai aku membaca di halaman itu, aku
memahami arti pentingnya sholat buat diriku sendiri. Aku sangat takut dengan
kejadian semua itu.. aku meminta maaf pada yang maha kuasa.. ALLAH, aku meminta
maaf buat kesalahan yang aku perbuat. Dan aku meminta maaf pada pacarku, bahwa
dia benar kalau sholat itu penting buatku. Aku bilang padanya kalau aku
menangis, dan dia tanyakan kenapa aku menangis. Aku katakan kalau aku takut
akan semua azhab2 yang Allah berikan padaku. Dia bilang aku tidak menurut kalau
di bilangin. Ya.. aku salah, aku memang salah, maaaf kan aku.. maaf aku tidak
menurut saat kamu menyuruhku. Tapi Alhamdullah semenjak kejadian itu aku mau
sholat dan terus berdoa. Walau pun aku belum sepenuhnya menjalankan dan
meninggalkan larangan nya. Aku ingin memakai jilbab, tapi baju serta handrok
panjang aku tidak punya, kecuali baju dan handrok sekolah aja. Tapi ingsya
Allah bila ku sudah kerja aku pakai jilbab. Hingga sekarang aku coba membeli
baju yang panjang untuk bisa pakai jilbab. aku benar2 bisa bersyukur sekarang,
walau pun masalah terus ada. Aku bersyukur punya keluarga yang masih bisa
kumpul2.. yang masih di beri kesehatan dan bersyukur masih bisa di beri makan. Ternyata
aku salah, aku salah kalau aku mengira keluargaku tidak sayang padaku. Tapi
nyatanya keluargaku sayang padaku. Mamah.. yah.. mamah, ternyata mamah tau
makan yang tidak aku suka yaitu “EmpaL” yang isi nya daging kambing. Aku
tersenyum dan menangis, hatiku bilang “Astagfiruallah.. ternyata mamah memang
sayang padaku, bukti nya ia tau kalau aku tidak suka makanan itu. Makasih ya
Allah engkau membuka kan mata hatiku yang mengira ia tidak sayang padaku”..
sekarang aku mengerti kalau mamah merhatiin anak nya beda2. Mamah memang tidak
sepenuh nya mengabulkan permintaan ku seperti makeup. Karena ia tau kalau aku
pasti bisa beli sendiri.. ya.. semua yang aku punya dari baju baru, celana
baru, sepatu baru aku beli sendiri walau pun harga semua itu murahan. Tapi aku
masih bisa beli yang baru. Aku tidak perluh beli yang bermerek atau pun yang
mahal. Bagiku semua yang murah tapi baru itu sama saja baju2 yang ada di Mall2.
Hanya saja di Mall lebih mahal karena pajak nya juga lebih besar dari pada di
pasaran. Tapi ada saja yang mengira semua itu belian mamah. Sampai dia juga
seperti benci padaku. Ya.. kakak cwe ku, dari kecil aku sering berantem sama
dia. Entah apa yang buat dia benci padaku. Padahal aku sering mengalah ataupun
diam saat dia menghinaku. Sampai sekarang dia juga masih menghinaku. Karena dia
semua orang menghinaku. Mungkin dia tidak pernah merasakan di hina dan di
kucilkan sama semua orang jadi dia menghinaku. Aku memang diam, tapi hati
berbicara, berbicara kapan kah kau menyadari semua kesalahan mu itu. Sekarang
aku tidak mau membalasnya lagi. Karena aku yakin semua itu ada balasan dari
yang di atas, yang maha kuasa “Allah”. Aku ini memang kecil, tapi aku tidak
pendek hanya saja tubuhku kecil. Tidak bisa gemuk seperti teman2ku. Tapi aku
tidak lemah, aku masih kuat. Aku kuat bisa bertahan dengan semua yang aku lakuin
sendiri, walau pun perbuatanku membuat tubuh ku makin kecil karena aku jarang
sekali makan. Hanya demi ngumpulin uang terus buat keperluan sekolahku sendiri.
Mungkin mamah tidak tau semua itu. Tapi aku sangat tersinggung jika aku meminta
uang buat bayar renang 20rbu saja mala bilang bayaran terus, astagfiruallah..
aku baru minta uang bayaran itu karena saat itu uang tabubgan ku habis buat
patungan membeli alat gambar. Coba kalau tiap hari aku minta uang bisa2 saja
aku mati di marahin terus. aku minta 20rbu juga Cuma bayarnya saja, tidak
untung uang saku. Padahal aku ngarepnya di kasih uang saku saat itu. Tapi
tidak.. di kasih uang 20rbu saja sudah Alhamdullah.. dari pada aku menangis di
jalan karena tidak di kasih uang seperti sebelumnya. aku sangat bersyukur
sekarang walau pun mereka masih menghinaku. Karena kata guru agamaku jika asal
mengganti nama seseorang dengan sebutan jelek atau pun hinaan itu sama saja
menghina dirinya sendiri yang mengatakanya pada orang lain. Aku tersenyum mendengarkanya.
Aku tidak perluh malu atau pun hati ini sakit, karena yang mereka katakan hanya
untuk diri mereka sediri.. yapz.. bener banget.. sekarang aku menikmatinya.
Yang perluh aku lakuin hanya saja bagaimana aku nanti, seperti apa aku nanti..
ingsya Allah yang aku ingin kan bisa aku dapat kan atau kesampaiaan... amin ya
Allah.. buat keluargaku aku sayang banget sama kalian.. aku sayang banget sama
mamah dan bapak. Dan buat pacar ku makasih sudah mau manjain aku dan mengerti
aku. Aku sangat bahagia bisa punya pacar seperti mu. Dengan semua kekuranganmu
aku jadi makin sayang padamu. Walau pun hinaan yang membawa2 nama mu aku tidak
perduliin itu semua. Yang harus kamu tau adalah kalau aku sayang banget sama
kamu... kamu memang yang mengerti aku. Pagi2 atau pun siang saja di bawain
Pocari.. hhehe aku memang manja karena aku juga pengen di manja sama orang tua
ku. Tapi aku tidak boleh manja padanya karena mereka tau aku bisa sendri. Jadi
aku hanya bisa manja sama pacarku.. seperti waktu aku manja sama kakek ku dulu..
aku pengen beli itu di cariin, aku pengen ini di beliin.. hhehe jadi makin
sayang.. walau pun aku tau dia hanya dari keluarga yang pas2an kataku. Hanya
saja pacarku hebat.. memang selalu hebat. Aku kangen ketawanya yang membuat
semua teman2nya ikut tertawa karena dia seperti pelawak.. yaa.... dia memang
pelawak, dia memang selalu bisa bikin aku tertawa terus. di pipi kanan nya ada
lesung pipit yang Cuma ada di kanan. Kalau aku katain lesung pipit dia mala
ngatain aku pipi bapau atau pipi serabi.. haha ya.. kalau aku ketawa pipi aku
cabih tapi Cuma di atas atau di bawah mataku, jadi dia ngatain itu. Pernah
suatu ketika aku pura2 marah sama dia sampai dia minta maaf aku cuekin. Tapi
aku tidak bisa nahan ketawa karena liat muka jeleknya.. hhehe tapi sering bikin
ngangenin..
Hidup ini memang cepat sekali.. hingga membuat
ku cepat lelah dan bosen. Tapi yang tidak pernah aku lupakan yaitu bersyukur
atas semua yang aku jalani.. Alhamdullah..:-)
Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang istirahat
duduk di tepi sungai. Ayahnya kemudian mengambil persediaan air dan meminumnya.
" Bismillah...Alhamdulillah...air ini nikmat sekali. " ...Sang Ayah
berkata kepada anaknya, “Air ini ciptaan Allah yang luar biasa, dia bisa
menghilangkan dahaga dan menambah tenaga. Air adalah sumber kehidupan makhluk
hidup, tanpa air semua makhluk hidup akan matii.”
Pada saat yang bersamaan, seekor ikan mendengarkan
percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin
tahu apakah air itu, yang katanya nikmat sekali, ciptaan Allah yang luar biasa,
bisa menghilangkan dahaga dan menambah tenaga, dan sumber kehidupan makhluk
hidup, serta tanpa air semua makhluk hidup akan matii. Ikan itu berenang dari
hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya,
“Hai, tahukah kamu dimana air ? Aku telah mendengar percakapan manusia yang
luar biasa tentang air.”
Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air
itu, si ikan semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air dan bertemu
dengan temannya Si Katak. Kepada Katak Si Ikan ini menanyakan hal serupa,
“Katak.. tahukah kamu diimanakah air ?” Katakpun tertawa dan menjawab , “Tak usah gelisah
temanku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari
kehadirannya. Memang benar, air itu luar biasa, sumber kehidupan dan tanpa air
kita akan mati. Tetapi untuk mengetahuinya mari ikut denganku" Si katak
melompat ke atas daun teratai diikuti oleh ikan. "Hap...hap...hap aku
disini tidak bisa bernafas." kata ikan, dan ikanpun melompat kembali ke
air sungai. Akhirnya ikan tersebut memahami apa itu air, dan air itu memang
luar biasa dan sumber kehidupannya.
Sahabat Hikmah…
Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si
ikan, Mencari kesana kemari tentang kehidupan dan
kebahagiaan, Padahal ia sedang menjalaninya dan menyelaminya, Bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya
sampai-sampai dia tidak menyadarinya.
Nikmat Tuhan itu seperti air di sekeliling ikan, Sangat banyak melingkupi kehidupan kita, Sehingga kita kadang tak sadar bahwa semuanya
adalah nikmat-Nya. Kita mengeluh mendapat musibah, Padahal kita tidak pernah bersyukur atas nikmat
yang tak terhingga.
Kita merasakan nikmat sehat bila kita sakit, Kita merasakan nikmat kaya, setelah kita jatuh
miskin, Kita merasakan nikmat kebersamaan setelah orang
dekat kita tiada,
Seperti ikan merasakan nikmat air ketika dia di
daratan.
Firman Allah : “ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu)
dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat
Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat
zholim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).” (QS Ibrahim ayat 34)
Sahabat Hikmah…Kebahagiaan itu tidak bisa dicari, Kebahagiaan itu tidak ada di luar diri, Kebahagiaan itu ada di dalam diri. Kebahagiaan adalah sikap bijaksana kita menghadapi
setiap keadaan. Baik nikmat maupun musibah kita bisa menikmati
dengan kebahagiaan. Kebahagiaan ada bila sikap IKHLAS, SYUKUR dan SABAR
ada di dalam diri.
Seperti Syaikh Ibnu Taimiyah yang tetap bahagia
walaupun telah diasingkan dan dipenjara. Beliau berkata “ Dipenjara aku berkholwat
(mendekatkan diri kepada Allah), diasingkan aku tamasya, dibunuh aku syahid .“
Jadi Sahabat Hikmah… Kita bisa IKHLAS, BERSABAR dan selalu BERSYUKUR… Apabila kita FOKUS atas NIKMAT Allah yang BANYAK BUKAN atas SATU NIKMAT Allah yang diambil-Nya..
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kisah ini dikutip dari
sebuah catatan facebook, sengaja menulis kembali cerita ini dengan maksud ingin
menyebarkan kisah kebesaran Allah yang maha dahsyat ! Mudah-mudahan kita
menjadi umat yang diselamatkan Allah .. Aamiin ...
Selama hampir sembilan tahun menetap di Mekah sambil
menguruskan jemaah haji dan u...mrah, saya telah melalui berbagai pengalaman menarik dan
yang pahit. Bagaimana pun, dalam banyaknya peristiwa yang saya alami, ada satu
kejadian yang tidak akan pernah saya bisa lupakan. Kisah ini terjadi kepada
seorang wanita yang berusia di pertengahan 30-an pada saat saya mengurus satu
rombongan haji.
Setibanya wanita tersebut dan rombongan haji di
Lapangan Terbang Jeddah kami sambut dengan sebuah bus. Semuanya terlihat riang
sebab ini adalah pertama kalinya mereka melaksanakan haji. Setelah itu saya
membawa mereka menaiki bis dan dari situ, kami menuju ke Madinah.
Alhamdulillah, segalanya berjalan lancar hingga kami
sampai di Madinah. Tiba di Madinah, semua orang turun dari bus. Turunlah mereka
satu persatu sampai tiba pada giliran wanita tersebut.
Tanpa sebab yang jelas tiba-tiba wanita itu jatuh
tidak sadarkan diri, yang secara langsung setelah menginjak bumi Madinah.
Sebagai orang yang dipertanggungjawabkan mengurus
jemaah itu, saya pun bergegas menuju ke arah wanita tersebut. “Jemaah ini
sakit” kata saya pada jemaah-jemaah yang lain.
Suasana yang tadinya tenang serta merta bertukar
menjadi cemas dan semua jemaah terlihat panik atas kejadian ini.
“Badan dia panas dan menggigil. Jemaah ini tak
sadarkan diri, cepat tolong saya … kita bawa dia ke rumah sakit” kata saya.
Tanpa membuang waktu, kami mengangkat wanita
tersebut dan membawanya ke rumah sakit Madinah yang terletak tidak jauh dari
situ. Sementara itu, jemaah yang lain diantar ke tempat penginapan
masing-masing.
Sampai di rumah sakit Madinah, wanita itu masih
belum sadarkan diri. Berbagai usaha dilakukan oleh dokter untuk memulihkannya,
namun semuanya gagal.
Sementara itu, tugas mengurus jemaah perlu saya
teruskan. Saya terpaksa meninggalkan wanita tersebut di rumah sakit. Namun
dalam kesibukan menguruskan jemaah, saya menghubungi rumah sakit Madinah untuk
mengetahui perkembangan wanita tersebut.
Namun, saya diberi kabar bahwa dia masih tidak
sadarkan diri. Selepas dua hari, wanita itu masih juga tidak sadarkan diri.
Saya makin cemas, maklumlah, itu adalah pengalaman pertama saya berhadapan
dengan situasi seperti itu.
Semua usaha untuk memulihkannya gagal, maka wanita
itu dibawa ke rumah sakit Abdul Aziz Jeddah untuk mendapatkan perawatan lanjut
sebab rumah sakit di Jeddah lebih lengkap kemudahannya dibandingkan rumah sakit
Madinah.
Namun usaha untuk memulihkannya masih tidak
berhasil. Jadwal Haji harus diteruskan. Kami berangkat ke Mekah untuk
mengerjakan ibadah haji. Selesai haji, saya langsung pergi ke Jeddah.
Malangnya, sampai rumah sakit Abdul Aziz, saya
diberitahu oleh dokter bahwa wanita tersebut masih koma. Bagaimanapun, kata
dokter, keadaannya stabil. Melihat keadaannya itu, saya ambil keputusan untuk
menunggunya di rumah sakit.
Setelah dua hari menunggu, akhirnya wanita itu
membuka matanya. Dari sudut matanya yang terbuka sedikit itu, dia memandang ke
arah saya dan terus memeluk saya dengan erat sambil menangis terisak-isak.
Ketika itu saya sangat bingung, Saya bertanya kepada wanita tersebut,
“Kenapa kamu menangis?”
“Ustazah … saya taubat Ustazah. Saya menyesal, saya
takkan berbuat lagi hal-hal yang tidak baik. Saya bertaubat, betul-betul bertaubat.”
“Kenapa kamu tiba-tiba ingin bertaubat?” tanya saya
masih dalam keadaan bingung. Wanita itu terus menangis terisak-isak tanpa
menjawab pertanyaan saya itu. Tidak lama kemudian dia bersuara, menceritakan
kepada saya mengapa dia berkelakuan demikian, cerita yang bagi saya perlu
diambil hikmahnya oleh kita semua.
Katanya, “Ustazah, saya ini sudah berumah tangga,
menikah dengan lelaki orang kulit putih. Tapi saya salah. Saya ini cuma Islam
pada nama dan keturunan saja. Saya tak pernah mengerjakan ibadah. Saya tidak
sholat, tidak puasa, semua amalan ibadah saya dan suami tidak pernah saya
kerjakan, rumah saya penuh dengan botol minuman.
Dengan suara tersekat-sekat, wanita itu
menceritakan,
“Ustazah … Allah itu Maha Besar, Maha Agung, Maha
Kaya. Semasa koma , saya telah diazab dengan siksaan yang benar-benar pedih
atas segala kesalahan yang telah saya buat selama ini.
“Betulkah?” tanya saya terkejut.
“Betul Ustazah. Selama koma itu saya telah
ditunjukkan oleh Allah tentang balasan yang Allah beri kepada saya. Balasan
azab Ustazah, bukan balasan syurga.
Saya rasa seperti diazab di neraka. Saya ini seumur
hidup tak pernah pakai jilbab. Sebagai balasan, rambut saya ditarik dengan bara
api. Sakitnya tidak bisa saya ceritakan dengan kata-kata.
Menjerit-jerit saya minta ampun minta maaf kepada
Allah.” “Bukan itu saja, buah dada saya pun diikat dan dijepit dengan penjepit
yang dibuat daripada bara api, kemudian ditarik ke sana-sini … putus, jatuh ke
dalam api neraka.
Buah dada saya hancur terbakar, panasnya bukan
main. Saya menjerit, menangis kesakitan. Saya masukkan tangan ke dalam api itu
dan saya ambil buah dada itu kembali .”
Tanpa mempedulikan pasien lain, suster pun
memerhatikannya wanita itu terus bercerita. Menurutnya lagi, setiap hari dia
disiksa, tanpa henti, 24 jam sehari. Dia tidak diberi waktu untuk beristirahat
atau dilepaskan dari hukuman, sepanjang masa koma itu di laluinya dengan azab
yang amat pedih.
Dengan suara terbata-bata, dengan berlinangan air
mata, wanita itu meneruskan ceritanya, “Hari ke hari saya disiksa. Bila rambut
saya ditarik dengan bara api, sakitnya terasa seperti kulit kepala yang ikut
terlepas. Panasnya juga menyebabkan otak saya terasa seperti menggelegak.
Azab itu pedih … pedih yang amat sangat … tidak
bisa saya ungkapkan. Sambil bercerita, wanita itu terus meraung, menangis
terisak-isak. Terlihat dia betul-betul menyesal atas semua kesalahannya. Saya
pun termenung, kaget dan menggigil mendengar ceritanya. Sangat pedih balasan
Allah kepada umat-Nya yang ingkar.
“Ustazah … buat saya, Islam hanya nama saja, tapi
saya minum alkohol, saya main judi dan segala macam dosa besar. Karena saya
suka makan dan minum apa yang diharamkan Allah, semasa tidak sadarkan diri itu
saya telah diberi makan buah-buahan yang berduri tajam.
Buah yang tak berisi melainkan hanya duri-duri
saja, tapi saya sangat ingin memakannya, karena saya benar-benar merasa lapar. Bila ditelan buah-buah itu, duri-durinya menusuk
kerongkongan saya dan bila sampai ke perut terasa menusuk perut saya. Sedangkan
jari yang tertusuk jarum pun terasa sakitnya.
Setelah buah-buah duri itu habis, saya diberi makan
berupa bara-bara api. Pada saat saya masukkan bara api itu ke dalam mulut,
seluruh badan saya rasanya seperti terbakar hangus. Panasnya cuma Allah saja
yang tahu. Api yang ada di dunia ini tidak akan sama dengan kepanasannya.
Setelah memakan bara api itu, saya meminta minuman, tapi … saya dihidangkan
dengan minuman yang dibuat dari nanah. Baunya cukup busuk, saya terpaksa
meminumnya sebab saya sangat merasa haus. Semua terpaksa saya lalui, tak pernah
saya alami sepanjang hidup di dunia ini.”
Saya terus mendengar cerita wanita itu dengan
tekun. Sangat terasa kebesaran Allah.
“Semasa diazab itu, saya merayu memohon kepada
Allah supaya diberikan nyawa sekali lagi, berilah saya peluang untuk hidup
sekali lagi. Tak berhenti saya memohon. Saya berjanji tidak akan mengulangi
kesalahan saya. Saya berjanji tidak akan ingkar atas perintah Allah dan akan
jadi umat yg soleh. Saya berjanji kalau saya dihidupkan kembali, saya akan
perbaiki segala kekurangan dan kesalahan saya dahulu, saya akan mengaji, akan
sholat, akan puasa yang selama ini saya tinggalkan.”
Saya termenung mendengar cerita wanita itu.
Benarlah, Allah itu Maha Agung dan Maha Berkuasa. Kita manusia ini tak akan
terlepas dari balasan-Nya. Kalau baik amalan kita maka baiklah balasan yang
akan kita terima, kalau buruk amalan kita, maka azablah kita di akhirat kelak.
Alhamdulillah, wanita itu telah menyaksikan sendiri
kebenaran Allah. “Ini bukan mimpi ustazah. Kalau mimpi azabnya tidak akan
terasa sampai sepedih ini. Saya bertaubat Ustazah, saya tak akan ulangi lagi
kesalahan saya. Saya bertaubat … saya taubat Nasuha,” katanya sambil
menangis-nangis.
Sejak itu wanita tersebut benar-benar berubah. Bila
saya membawanya ke Mekah, dia menjadi jemaah yang paling khusyuk.
Amal ibadahnya tak pernah berhenti. Contohnya,
kalau wanita itu pergi ke masjid pada waktu maghrib, dia hanya akan balik
kehotelnya selepas sholat subuh.
“Kenapa melakukan ibadah sampai tidak ingat waktu.
kamu juga harus menjaga kesehatan. Pulanglah setelah sholat Isya, makan nasi
atau istirahatlah sejenak …” tegur saya.
“Tidak apa-apa Ustazah. saya membawa buah kurma.
saya memakannya disaat saya merasa lapar.” Menurut wanita itu, sepanjang berada
di dalam Masjidil Haram, dia ingin membayar sholat yang ditinggalkannya dahulu.
Selain itu dia berdoa, mohon kepada Allah supaya
mengampunkan dosanya. Saya kasihan melihatkan keadaan wanita itu, takut karena
ibadah dan tekanan perasaan yang keterlaluan dia akan jatuh sakit. Jadi saya
menasihatkan supaya tidak beribadah keterlaluan hingga mengabaikan
kesehatannya.
“Tidak boleh Ustazah. Saya takut … saya sudah
merasakan pedihnya azab Tuhan. Ustazah tidak merasa, Ustazah tidak mengetahui
rasanya. Kalau Ustaz sudah merasakan azab itu, Ustazah juga akan menjadi
seperti saya. Saya betul- betul bertaubat.”
Wanita itu juga berpesan kepada saya, katanya,
“Ustazah, kalau ada perempuan Islam yang tak pakai jilbab, Ustazah ingatkanlah
pada mereka, pakailah jilbab. Cukuplah saya saja yang merasakan siksaan itu,
saya tidak mau ada wanita lain yang merasakan hal seperti yang saya sudah
rasakan. Semasa diazab, saya melihat larangan-larangan Allah, salah satunya
adalah setiap sehelai rambut wanita Islam yang sengaja diperlihatkan kepada
lelaki yang bukan mahromnya, maka dia diberikan satu dosa. Kalau ada 10 lelaki
yang bukan mahrom melihat sehelai rambut saya ini, maka saya mendapatkan 10
dosa.”
“Tapi Ustazah, rambut saya ini banyak jumlahnya,
beribu-ribu. Kalau seorang melihat rambut saya, itu berarti beribu-ribu dosa
yang saya dapat. Saya berniat, sepulang saya dari haji ini, saya minta tolong
dari ustazah supaya mau mengajarkan suami saya sholat, puasa, mengaji, dan
mengerjakan semua ibadah. Saya ingin mengajak suami pergi haji. Seperti saya,
suami saya itu Islam pada nama saja. Tapi itu semua adalah kesalahan saya. Saya
sudah membawa dia masuk Islam, tapi saya tidak membimbing dia. Bukan itu saja,
sayalah yang menjadi seperti orang yang bukan Islam.”
Sejak kembali dari haji itu, saya tidak mendegar
cerita tentang wanita tersebut. Bagaimana pun, saya percaya dia sudah menjadi
wanita yang benar-benar solehah. Adakah dia berbohong kepada saya tentang
ceritanya diazab semasa koma? Tidak. Saya percaya dia berkata benar. Jika dia
berbohong, kenapa dia berubah dan bertaubat Nasuha?
Satu lagi, cobalah bandingkan azab yang diterimanya
itu dengan azab yang digambarkan oleh Allah dan Nabi dalam Al-Quran dan hadish.
Adakah ia berbohong ?
Benar, apa yang terjadi itu memang kita tidak dapat
membuktikannya secara saintifik, tapi bukankah soal dosa dan pahala, syurga dan
neraka itu perkara ghaib?
Janganlah bila kita sudah meninggal dunia, bila
kita sudah diazab barulah kita mau percaya bahwa “Oh … memang betul apa yang Allah
dan Rasul katakan. Aku menyesal …” Itu sudah terlambat.
Wallahua’lam bish Shawwab ....
... Raihlah 5 peluang sebelum datang 5 rintangan,
Kaya sebelum miskin, Senang sebelum susah, Sehat sebelum sakit, Muda sebelum
tua dan waktu Hidup sebelum mati ...
... Semoga kisah ini membawa kita menjadi umat yang
lebih mengerti bahwa dunia bukanlah tempat terakhir, masih ada akhirat, masih
ada alam lain yang sudah menanti kita sebagai mana dituliskan dalam Al Qur’an.
Semoga kita menjadi umat yang senantiasa beribadah kepada Allah. .. Aamiin ...
Barakallahufikum ....
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati
kita yang telah lama terkunci ...
~ o ~
Salam santun dan keep istiqomah ...
--- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan
disana-sini dalam catatan ini ... Itu hanyalah dari kami ... dan kepada Allah
SWT., kami mohon ampunan ... ----
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ... Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat
note ini bermanfaat ....
#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#
Karena cerita ini aku
jadi ingin terus sholat, biasa nya aku hanya bermalas2an.. tapi Alhamdullah
karena kisah ini aku jadi sholat.. J
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Cerita ini adalah kisah
nyata … dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah
laptopnya .. Bacalah semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua
...
Cinta itu... butuh kesabaran … Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta
kita ???
************ Hari itu,,, aku dengan nya berkomitmen untuk
menjaga cinta kita.. Aku menjadi perempuan yg paling bahagia ….. Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah ….. Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu
itu ... Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar,
tampan & mapan pula ...
Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir
nya .. Kami berbulan madu di tanah suci,, itu janjinya
ketika kami berpacaran ..
Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke
tanah suci …. Aku sangat bahagia dengan nya,,diya sangat
memanjakan aku …. Sangat terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku. Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi.
Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah
dengannya.
5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu
berjalan, walaupun kami hanya berdua saja. Karena sampai saat ini aku belum
bisa memberikannya seorang malaikat kecil di tengah keharmonisan rumah tangga
kami.
Karena dia anak lelaki satu – satunya dalam keluarga
nya,,jadi aku harus berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya …
Alhamdulillah suamiku mendukung ku …. Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami
untuk menjaga titipan NYA.
Tapi keluarga nya mulai resah, Dari awal kami
menikah ibu & adiknya tidak menyukaiku, aku sering mendapat perlakuan yang
tidak menyenangkan dari mereka, tapi aku menutupi dari suami ku….. didepan
suami ku,,mereka sangat baik pada ku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina –
hina oleh mereka …
Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami,
suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur .. Alhamdulillah suami ku selamat
dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda ..
Ia dirawat dirumah sakit, pada saat dia belum
sadarkan diri, aku selalu menemaninya siang & malam, kubacakan ayat – ayat
suci Al – Qur’an, aku sibuk bolak – balik rumah sakit dan tempat aku melakukan
aktivitas sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.
Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari
rumah kami, aku melihat didalam kamarnya ada ibu, adik – adiknya dan teman –
teman suamiku, dan satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan
ibunya. Mereka tertawa menghibur suamiku. Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku
menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di
depannya.
Kubuka pintu yg tertutup rapat itu, sambil
mengatakan “Assalammu’alaikum” mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di
depan pintu dan mereka semua melihatku, suamiku menatapku penuh manja, mungkin
ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya
melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya yg erat.
Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil
berkata “Assalammu’alaikum” , ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih
tapi penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya. Ibu nya lalu
berbicara sama aku …
“Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri”
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman
baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan dia sangat akrab
dengan keluarga suamiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun
langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan, aku
tak mengerti apa yg mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan & mengobati luka – luka
di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba – tiba adik
ipar ku yg bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan
suamikupun mengijinkannya. Aku pun menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata ” lebih
baik kau pulang saja ” Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”
Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku
dengan alasan abang harus banyak beristirahat, karena psikologisnya masih labil.
Aku berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh
pamitan pada suamiku, tapi tiba – tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia
mengatakan hal yg sama, ia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang
tak pamitan pada nya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik
ibunya salah suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi
meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk
suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dlm
kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.
************
Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di
benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.
Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarang rumah kami, suamiku memanggil ku
ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan
favorit kami, sambil melihat ikan – ikan yang bertaburan di kolam air mancur
itu. Aku bertanya ” Ada apa kamu memanggil ku ?”
Ia berkata ” Besok aku akan menjenguk keluargaku di
Sabang” Aku menjawab ” Iya sayang aku tahu, aku sudah
mengemasi barang – barang kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan
?”
“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu
aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak
kita menikah dan aku kan pulang dengan mama ku ” Jawab nya tegas
“Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja
kamu disana ?” tanya ku balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan
sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu,
padahal aku bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
” Mama minta aku yang menemani nya saat pulang
nanti ” jawab nya tegas.
” Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena
nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan ?” lanjut nya lagi sambil memeluk ku
dan mencium keningku.
Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh
aku tunjukkan pada nya. Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan
rasa sayang & cintanya. Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin
bersama suamiku, tapi karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka
cemburu pada ku karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar ia
saja yg pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah
tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi
seluruh keluarga nya harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya
harus datang atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku
pun tak mau membuat riuh keluarga ini.
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil
membereskan keperluannya yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus
airmata yang jatuh dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam
seakan terjadi sesuatu,,tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya
bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.
Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini,
karena kami selalu bersama - sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak
punya teman, hanya pembantu saja teman ngobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.
Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi
kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku
tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelpon ku.
************ Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku
merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi
aku tak terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami
buruk, saat ia di sana aku pun jatuh sakit … rahimku sakit sekali seperti
dililit oleh tali, tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai –
sampai aku mengalami pendarahan, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki -
lakiku yang kebetulan menemaniku disana.
Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim
stadium 3…. Aku menangis, apa yang bisa aku banggakan lagi, mertuaku akan
semakin menghinaku, suami ku yang malang, yang berharap akan punya keturunan
dari rahimku … Aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan aku hanya memeluk
adikku.
Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang,
kapan ia pulang, aku tak tahu .. Sementara suamiku disana, aku tidak tahu
mengapa ia selalu marah – marah jika menelponku, bagaimana aku akan cerita
kondisiku jika ia selalu marah - marah terhadapku.
Lebih baik aku tutupi dulu, dan aku juga tak mau
membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang. Lebih baik nanti saja ketika ia
sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita pada nya. Setiap hari aku menanti
suami ku pulang, hari demi hari aku hitung ….
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika
aku sedang melihat foto - foto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang
masuk.
Ku buka di inbox ponselku, ternayta dari suamiku
yang sms, ia menulis “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu
hari lagi, aku aku kabarin lagi”.
Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah,
tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku
menantinya di rumah. Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan
memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan
menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir – akhir ini.
Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun
mengucap salam, sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap
berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua
kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu
aku pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya …
Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung
naik keatas, ia langsung mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun
segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3
malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena
melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus
mukanya, aku cium kening nya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3
raka’at.
************ Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu
aku liat dia dari balkon kamar kami dia bersiap – siap untuk pergi, aku
memanggil nya tapi ia tak mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari
dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku
mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi, ada apa dengan suamiku … mengapa ia
sangat aneh terhadapku ?
Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada
sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku, kebetulan Dian
yang angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang terjadi dengan
suamiku. Dengan enteng ia menjawab “Loe pikir aja sendiri!!!” telpon pun
langsung terputus.
Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan.
Mengapa suamiku berubah setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia
tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan ku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan
ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara
seperlunya saja, aku selalu di introgasinya, aku dari mana dan mengapa pulang
terlambat, ia bertanya dengan nada yg keras, suamiku telah berubah.
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh
nya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang
telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya
seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku
hanya berdo’a agar suamiku sadar akan prilakunya.
*******
2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku
menangis tiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang
baru saja kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun
kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapi segala yang
ia perlukan.
Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia
tak pernah bertanya obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna,
harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan
berakhir.
Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari
aktifitasku sebagai seorang guru gaji jadi aku tak perlu repot – repot meminta
uang pada nya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.
Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan
sekarang telah menjadi orang asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk
berpikir sendiri. Tiba – tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai,
suamiku memanggilku.
“ya ada apa Yah !” sahutku dengan memanggil nama
kesayangannya “Ayah”
“Lusa kita siap – siap ke Sabang ya !” Jawabnya
tegas
“Ada apa ?” Mengapa ?” sahutku penuh dengan
keheranan
Astaghfirullah ... suami ku yang dulu lembut
menjadi kasar, diya mebentakku,,tak ada lagi diskusi anatara kami.
Dia mengatakan ” Kau ikut saja jangan banyak tanya
!!! ”
Aku pun lalu mengemasi barang – barang yang akan
dibawa ke Sabang sambil menangis,sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi.
5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia
menjadi orang asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta
yang dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin, sangat dingin dari
batu es.
Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya
aku berontak tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang kasar,
ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang – barang, dia bilang
perbuatan itu menunjukkan ketidakhormatan kedapanya. Aku hanya bisa bersabar
menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini sendiri.
************
Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah
karena semalaman aku tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya
telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik – adiknya, aku tidak tahu ada
acara apa ini .. Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah
didalam kamar tua itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin
memasukkannya ke dlm lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu
telah ada sebelum suamiku lahir.
Tiba – tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada
ku memanggil ku untuk segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang
keluarga yang berada di tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda
diaman langit - langit nya lebih dari 4 meter.
Aku duduk disamping suamiku, suamiku menunduk penuh
dengan kebisuan, aku tak berani bertanya pada nya, tiba – tiba saja neneknya,
orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya membuka
pembicaraan.
“Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin
bicara dengan kau Fisha ! ” Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot mata
yang tajam. ” Ada apa ya Nek ?” sahutku dengan penuh tanya.. Nenek pun menjawab
” Kau telah gabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami
tak melihat tanda – tanda kehamilan yang sempurna, sebab selama ini kau selalu
keguguran!!’
Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari,
untuk dihina atau dipisahkan dengan suamiku.
“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri,
dari dulu, sebelum kau menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala,
tak mau di atur, dan akhirnya menikahlah ia dengaa kau.” Neneknya berbicara
sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku
yang kosong matanya. “Dan aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah
berkenalan dengannya” Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat
air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku
tak punya keberanian.
Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan
yang terakhir dari pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia
berkata ” kau maunya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?”
Masya Allah…… kuat kan hati ini, aku ingin jatuh
pingsan, hati ini seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa
keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang
tuaku yang tinggal di pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2
tahun belakangan ini.
“Fish, jawab !! ” Dengan tegas Ibunya langsung
memintaku untuk menjawab
Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan
yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas……. ” Walaupun aku tidak bisa
berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk
kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita
baru dirumah kami.”
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta
ku di bagi, pada saat itu juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata,
tapi mata ku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka. Aku lalu bertanya
kepada suami ku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti
Yah ? ” Suamiku menjawab ” Dia Desi ! ”
Aku pun langsung menarik napas dan langsung
berbicara ” Kapan pernikahan nya berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan
dalam pernikahan ini Nek ?”
” Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu
di rumah, untuk menyuruh nya mengurus KK kami ke kelurahan besok” setelah
berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku
berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar, aku langsung duduk di tempat
tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal
ini, cintaku telah dibagi,,sakit. ..diiringi akutnya penyakitku. Apakah karena
ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini ?
Aku berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku,
aku bercermin sudah tidak cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri
rambutku yang setiap hari rontok, ku lihat wajahku, ternyata aku memang sudah
tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak dibagian
tengahnya.
Tiba – tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami
ku datang, ia berdiri dibelakangku, ,tak kuhapus air mata ini aku langsung
memandangnya dari cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan
“terimah kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih
lagi saat ditinggal pergi kamu nanti ! iya kan ?”
Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi
tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya
mengatakan jangan salah memakai shampo, dalam hati ku mengapa ia sangat cuek ?
ia sudah tak memanjakan ku lagi.. Lalu dia bilang bilang “sudah malam, kita
istirahat yuk ” !
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur” jawab ku
tenang.
Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung
waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi
pernikahan suamiku. Aku tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini
mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan
aku, dimana rasa sayang dan cintanya itu.
************ Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis
curahan hatiku di laptopku.
Di laptop aku menulis saat – saat terakhirku
melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis
melihat suamiku yang tidur pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepada
ku. Aku save di my document yang bertitle “Aku mencintaimu Suamiku ”
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi
aku tak sanggup untuk keluar, aku berdiri didekat jendela, aku melihat
matahari, mungkin aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama,, lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian
pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah siap ?” Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil
berkata :
“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu
membawa ia masuk ke dalam rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci
kaki ku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di
ubun - ubunya sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu setelah itu…..”
tak sanggup aku ingin meneruskan pembicaraan ini, aku ingin menangis meledak
Tiba – tiba suamiku menjawab “lalu apa Bunda ?”
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku
menunduk, aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar – binar…
“bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?”
pinta ku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.
Dia mengangguk dan berkata ” Baik bunda akan ayah
ulangi, lalu apa bunda ?” sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku,
dia agak sedikit membungkuk karena diya sangat tinggi, aku hanya sedada nya
saja.
Dia tersenyum, sambil berkata ” Kita liat saja
nanti ya !” dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat
yang ayah temui selain mama” lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluk nya
erat dan berkata ” Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja?
Mengapa ayah berubah? Aku kangen sama ayah? Aku
kangen belaian kasih sayang ayah? Aku kangen dengan manjanya ayah ? Aku kesepian
ayah ?
Dan satu hal lagi yang harus ayah tau bahwa aku
tidak pernah berzinah ! Dulu waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa
melupakannya, setelah 4 bulan bersama ayah baru bisa aku terima, jika yang
dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari.”
Bukan berarti aku pernah berzina ayah. Aku langsung
bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata ” Aku minta maaf
ayah telah membuatmu susah”
Saat itu juga, diangkatnya badanku,ia hanya
menangis.
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti
dirinya kembali. Tiba – tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak
beres dengan ku, dan ia bertanya ” bunda baik – baik saja kan” tanya nya dengan
penuh khawatir.
“aku pun menjawab, bisa memeluk dan melihat kamu
kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik Yah” aku tak bisa bicara sekarang.
Karena dia akan menikah. Aku tak mau buat dia khawatir. Dia harus khusyu
menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.
************
Setelah tiba dimasjid, ijab qabul pun dimulai. Aku
duduk disebrang suamiku.
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan
perempuan itu membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan “Ayah
Jangan” tapi aku ingat akan kondisi ku.
Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab
qabul tersebut. Begitu ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante
Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan
hati ini, ya,,aku kuat.
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di
pelaminan. Orang – orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka
melihatku sangat aneh, wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam
rumah begitu saja, tak mencuci kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya.
Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini ?
Sementara itu Desi di sambut hangat di dalam
keluarga suamiku, tak seperti aku yang di musuhinya.
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa !!
Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa
yang mereka lakukan didalam.
1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku
keluar untuk berwudhu, aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa
ruang tengah, ku dekati lalu ku lihat…. Masya Allah, suamiku tak tidur
dengannya, ia tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus mukanya yang
lelah, tiba – tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.
“kamu datang ke sini, aku pun tau ” ia langsung
berkata seperti itu, aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat
lail, ia mengatakan “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita
karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama,
papa dan juga adik – adikku”
Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia
langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku
tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan
menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah
merasakan kehadirannya saat ini. Tapi masih bisakah engkau ijinkan aku untuk
merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.
Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus ?”
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa
aku rasakan.
Aku pun berkata “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi
?”
” Aku kangen sama kamu Bunda ” Aku tak mau
menyakitimu lagi, kamu sudah terluka oleh sikapku yang egois” Dengan lembut
suamiku menjawab seperti itu.
Lalu suamiku berkata, ” Bun, ayah minta maaf telah
menelantarkan bunda… Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus
mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan satu
lagi ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya klo
bunda gak mau berbuat seperti itu, dan seperti itu di beri tanda kutip
(“seperti itu” ), ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung, dan ayah
berpikir klo bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus
ayah dimarahi oleh keluar ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda ”
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika
tidak ada kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak
pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.
Aku hanya menjawab “Aku sudah ceritakan itu kan
Yah, aku tidak pernah berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku
hanya mengejar hartamu, mengapa kamu, banyak lelaki yang lebih mapan darimu
waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari
menangis karena menderita mencintaimu.
Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena
sahabatku sendirian di kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan
masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluaraganya
juga. Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.
************ Keesokan harinya….. …..
Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu,
kepalaku pusing, rahimku sakit sekali .. aku pendarahan .. suamiku kaget …
Suamiku kaget bukan main, ia langsung
menggendongku. Aku pun dilarikan ke rumah sakit …. Jauh sekali aku mendengar
suara zikir suamiku …. Aku merasakan tanganku basah … Ketika kubuka mata ini,
kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.
Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan
mengatakan ” Bunda,,Ayah minta maaf ,,,,!!”
Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hati ku,
apa ia tahu apa yang terjadi padaku.
Aku berkata dengan suara yang lirih ” Yah….Bunda
ingin pulang, bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana
ya Yah ….”
“Ayah jangan berubah lagi ya !!! Janji ya Yah… !!!
Bunda sayang banget sama Ayah ”
Tiba – tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakit
nya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi
memegang tangan suamiku, kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya.
Sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat
syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.
********* Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku
.. Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka,
.. Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan
dari kami pacaran sampai kami menikah ...
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku.
Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir
didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma,
dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami.
Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa
engkau punya bukti nya Ma. Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma ? Fikri
tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu
aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci
diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi dengan ku, menantumu kau bersikap
sebaliknya.”
********* Setelah ku buka laptop, ku baca curhatan istriku
...
Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku .. Aku
dihina oleh mereka ayah ...
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada
dirimu ? Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena
dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidak sukaannya. Sangat
terlihat Ayah.
Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik,
sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku.
Mengapa seperti itu ayah ...?
Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena
aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah. Aku diusir dari rumah
sakit. Aku tak boleh merawat suamiku . Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan
mertuaku Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku ..
Aku sangat marah…. Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan
pasti membela Desi dan ibunya. ..
Aku tak mau sakit hati lagi ... Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku ... Engkau Maha Adil ... Berilah keadilan ini padaku Ya Allah .. Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada
ku ... Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan
bermanja - manja lagi padamu ...
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini ... Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker
ini terus menyerangku ...
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah ... Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu ... Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui ... Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian
keluarga suamiku Aku harus sadar diri ...
Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu ... Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ? .. Ayah aku masih tak rela ... Tapi aku harus ikhlas menerimanya ... Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan
keduanya ... Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya
tersenyum untukku ..
Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang
terakhir .. Sebelum ajal ini menjemputku ...
Ayah … aku kangen ayah ..!
********** Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun .. Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi
ke Pulau Kayu ini ...
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang
berwarna pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur
... Bunda akan selalu hidup dihati ayah .... Bunda … Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah
…
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah
membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak
pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun,
kamu sakit pun aku tak perduli, dalam kesendirianmu …
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin
ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan
bunda .. Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui ...
Aku menyesal telah asik dalam keegoanku .. Bunda maafkan aku .. Bunda tidur tetap manis.
Senyum manjamu terlihat ditidurmu yang panjang ....
Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan
membahagiakan mu, aku selalu mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut
menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku
percaya begitu saja ...
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga
sana ? Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia dialam sana ?
Tunggulah Ayah disana Bunda …… Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini ……
Aku mohon ….. Ayah Sayang Bunda ….
Wallahu’alam bishshawab, .. #Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang
bermanfaat dan bernilai ibadah ....
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati
kita yang telah lama terkunci ...